in

HMI dan Kekuatannya Membaca Zaman (Refleksi Milad HMI)

Jakarta – Hari ini, 5 Februari 2020, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menginjak usia ke-73 tahun. 5 Februari 1947, adalah momentum Lafran Pane dalam membaca zaman, dan lahirlah HMI.

Semangat itu, diteruskan beberapa dekade setelahnya oleh ketua umum HMI Noercholis Madjid, Ketika itu Cak Nur menyampaikan ide pembaharuannya pada 1970 dengan topik “Keharusan Pembaharuan Pemikiran dalam Islam dan Masalah Integrasi Umat”.

Pidato “Urgensi Reformasi Bagi Pembangunan Bangsa yang Bermartabat” yang disampaikan Ketua Umum HMI, Anas Urbaningrum, juga lahir dari semangat yang sama dengan pendahulunya. Gagasan itu dicetuskan 3 bulan sebelum lengsernya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

Tak dinyana, ketiga Ketua Umum HMI ini memiliki kesamaan dalam hal kecerdasan membaca zaman, kekuatan nalar menerjemahkan konteks. Dan sayangnya daya itu kian memudar hingga saat ini.

Wabah Politik Praktis

Tak perlu terlalu panjang becerita akan hal ini, kita semua mestinya secara apriori sadar akan wabah politik praktis dalam tubuh HMI. Semenjak reformasi hanya beberapa periode saja Himpunan ini tidak dilanda wabah dualisme kepengurusan.

Cak Nur bahkan pernah melihat langsung betapa nafsu politik kian mengakar di lingkungan HMI. Pada tahun 2000 Cak Nur bercerita betapa ia sangat kecewa ketika saat berkunjung ke Ambon, sebelum peristiwa kekerasan terjadi di sana. Katanya, seorang alumni HMI yang bekerja dalam jajaran birokrasi daerah menceritakan dengan bangga, bahwa hampir 90 persen kalangan birokrasi Ambon telah diambil alih oleh “orang kita” (Madinaonline).

Cak Nur sedih dan kecewa karena, menurutnya, pendekatan itu sangat tidak bijaksana. Sebab, dalam hal apapun hal itu hanya akan menyulut kecemburuan sosial. Lalu seperti suatu nubuat, ramalan Cak Nur itu kemudian menjadi kenyataan. Masih menyinggung hal serupa, baru-baru ini HMI Connection bahkan dituduh sebagai biang keladi dari lengsernya Gus Dur dari kursi kekuasaan, terlepas dari valid atau tidaknya narasi terebut.

Hal yang jelas, bagi siapapun yang pernah berproses di level terendah hingga tertinggi dalam tubuh HMI, sepertinya atau setidaknya pernah mendengar cerita-cerita tentang “orang kita” dalam birokrasi pemerintahan. Ada semacam euforia tinggi ketika menyebut gubernur A, mentri B, pejabat C adalah alumni HMI. Tidak salah tentunya, penyebutan “orang kita” seakan memang mengandaikan sebuah kesolidan, persatuan, dan persaudaraan. Tapi sayang, jauh panggang dari api.

Dalam internal HMI, kita bahkan terus menerus saling serang-menyerang satu sama lain, tanpa henti. Perkelahian bahkan seolah tidak pernah putus, tidak ada jeda dalam pertempuran politik. Nafas perang hanya akan terhenti sementara waktu untuk mengumpulkan modal dan mengkoordinir pasukan tentara dari setiap cabang, tak lama setelahnnya senjata harus diangkat kembali di medan pertempuran.

Hal yang penting kita sadari, himpunan ini sudah “tidak semenarik” sejarah besarnya. Skill apa yang bisa didapat dari berHMI? Skill politik? Dalam pemetaan perpolitikan hari ini, HMI semakin hari semakin hilang kekuatannya, kalah “nilai jualnya” dibanding organisasi mahasiswa lainnya, lembaga-lembaga swadaya, hingga komunitas-komunitas start up, apalagi parta-partai yang juga mulai diganndrungi anak-anak muda. Untuk urusan ini, jangankan bicara roadmap politik nasional, politik kampus saja HMI sudah mulai ditinggalkan.

Sebuah Era, Sebuah Perjuangan

Senarai memori silam kejayaan HMI di awal memang tinggal cerita dan telah jadi catatan sejarah belaka. Tak semua kita berhasil menautkannya dengan perjuangan hari ini. Lebih parahnya lagi, sedikit sekali dari kita yang sanggup menalar rentetan kejadian di hadapan buku para pendahulu itu. Memang bukan kita yang tampil sebagai penentu bandul pendulum perjuangan HMI berdiri.

Namun, di pundak kita lah kini, bakti pada Himpunan tercipta dititipkan. Lantas kita mau apa? Jika dulu senior-senior kita berurusan dengan VoC, Komunis hingga Otoriterisme kuasa, hari ini kita berhadapan dengan Google !! Bahkan, saat ini robot telah menjadi fenomena sosial yang relevan untuk diimplementasikan. Robot-robot diproyeksikan dapat mengambil alih pekerjaan manusia. Bukan hanya sekedar pekerjaan yang bersifat fisik, “mereka” bahkan didesain agar dapat membuat keputusan-keputusan strategis. Misalkan saja, dengan kemajuan teknologi internet, banyak perusahaan-perusahaan yang telah menggunakan robot perangkat lunak ATS (Applicant Tracking Systems) dalam menyaring resume para pelamar kerja. Dengan logika binernya, sistem itu memutuskan kandidat yang tepat untuk kemudian dapat dipertimbangkan. Hal tersebut tentunya berpengaruh besar dalam mengubah cara pandang pemegang keputusan.

Dalam praktik mengajar, meski cukup kontroversi di Amerika Serikat, perangkat lunak bahkan sudah diimplementasikan untuk menilai suatu esai (grading essays robots). Teknologinya menggunakan algoritma machine learning mirip dengan Google Translate yang memiliki kemampuan membaca dan menerjemahkan kalimat (Martin Ford, 2015). Dengan teknologi ini, seorang guru tidak lagi perlu memeriksa tugas peserta didik, robotlah yang melakukannya. Fenomena MOOC (Massive Online Open Course) tak disangkal juga mengubah metode pembelajaran dalam pendidikan tinggi. MOOC ini menggunakan perangkat lunak interaktif termasuk grading essays robots. Dengan teknologi itu, metode pengajaran yang sebelumnya bersifat sosio-psikologis tergantikan dengan yang gaya kalkulatif dan rasional.

Bayangkan betapa jauhnya HMI tertinggal: Pendataan Data Base kader saja, hingga sekarang belum terdokumentasi, apalagi terdigitalisasi dengan baik, mulai dari level komisariat hingga PB HMI. Padahal data adalah harta, dan harta itu telah terlalu lama diabaikan.

Hal yang ingin ditekankan berkenaan dengan fenomena teknologi super canggih ini ialah bahwa ia harus dipahami dalam konteks sistem dan objek yang dapat menghasilkan implikasi-implikasi sosial-budaya. Meski tindakannya dikendalikan secara artifisial untuk kepentingan manusia, eksistensinya telah mengubah cara berpikir manusia. Kita memiliki kesan dan reaksi tertentu ketika berinteraksi dengan teknologi apalagi robot. Karna itu masalah utamanya, bukan pada persoalan potensinya untuk mengambil alih pekerjaan, tapi bagaimana mendefinisikan posisinya secara sosiologis di tengah masyarakat. Dan demikianlah era yang kita hadapi, demikianlah idealnya kita bernalar.

Fakta yang sulit dibantah, manusia kini telah hidup berbarengan dengan teknologi, dan tampaknya tak lama lagi robot juga akan “diterima” sebagai bagian itu. Lantas berapa lama waktu yang tersisa bagi HMI dengan gaya konvensionalnya untuk punah. Masih eksis kah HMI dalam Sepuluh tahun ke depan? Dua puluh tahun ke depan?

Selamat Milad Himpunan Mahasiswa Islam, semoga panjang umur!

*) Artikel ini ditulis oleh Firman Kurniawan Said, Kabid Infokom PB HMI 2018-2020.

Lapor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menurut kamu?

Pengisian PDSS SNMPTN Akan Ditutup 8 Februari

PT LIB Ubah Regulasi Liga 1 2020, Ini Tanggapan Persib Bandung