in

Surat Penyesalan Raja Belgia untuk Republik Demokratik Kongo

Raja Belgia, Philippe, menyatakan penyesalannya yang mendalam pada Selasa (30/6) (Foto: Raja Belgia, Philippe bersama Ratu Belgia, Mathilde)

Surat penyesalan Raja Philippe menjadi yang pertama atas masa lalu kolonial Belgia.

BRUSSELS — Raja Belgia, Philippe, menyatakan penyesalannya yang mendalam pada Selasa (30/6). Ia menyesal atas penderitaan dan penghinaan yang ditimbulkan kerajaannya terhadap Republik Demokratik Kongo (DRC) selama 75 tahun berada di bawah kekuasaan Belgia.

Suratnya kepada Presiden DRC, Felix Tshisekedi, untuk merayakan peringatan 60 tahun kemerdekaan negara itu adalah ungkapan penyesalan pertama atas masa lalu kolonial Belgia dari seorang raja yang memerintah. “Saya ingin mengungkapkan penyesalan terdalam saya atas luka masa lalu ini, rasa sakit yang secara rutin dimunculkan kembali oleh diskriminasi yang masih ada di masyarakat kita,” menurut surat yang dilihat oleh Reuters.

DRC memperoleh kemerdekaan pada tahun 1960 setelah negara Afrika Tengah itu menjadi koloni Belgia selama 52 tahun dan, sebelum itu, menjadi milik pribadi Raja Leopold II selama 23 tahun hingga 1908. Selama pemerintahan Leopold “tindakan kekejaman dilakukan, sementara periode kolonial berikutnya” menyebabkan “penderitaan dan penghinaan “, kata Philippe.

Patung-patung Leopold, yang pasukannya membunuh dan melukai jutaan orang di Kongo, telah dirusak atau diturunkan di Belgia. Situasi ini terjadi setelah protes anti-rasisme global yang dipicu oleh pembunuhan pria kulit hitam Amerika Serikat George Floyd oleh polisi, menyapu Eropa.

Philippe berjanji untuk terus memerangi segala bentuk rasisme dan menyambut baik langkah parlemen Belgia untuk meluncurkan komisi rekonsiliasi guna mengatasi rasisme dan masa lalu kolonial negara itu. Proses refleksi ini dapat membantu rakyat Belgia untuk “akhirnya berdamai dengan kenangan kita”, katanya.

Pandemi virus corona mencegah raja Belgia dari bepergian ke DRC untuk merayakan ulang tahun itu. Philippe menyampaikan pesan yang berbeda dibandingkan adik laki-lakinya, Pangeran Laurent, yang mengatakan awal bulan ini bahwa Leopold tidak mungkin membuat orang menderita di DRC karena dia tidak pernah mengunjungi koloninya itu.

sumber : Reuters/Antara

Sumber: Republika

Lapor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menurut kamu?

Logo Liga Indonesia Baru

Liga 1 Lanjut, PT LIB Buat Kontrak Baru dengan Sponsor

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto

Pemerintah Gali Potensi Kerja Sama Ekonomi RI-Uni Eropa