Covid-19: Tantangan dan Masa Depan Sosial Ekonomi Jawa Tengah

  • Whatsapp
Virus corona dalam tampilan mikroskopik. (ilustrasi)
Telaah.id – Pendemi Covid-19 mampu memberi efek luar biasa pada seluruh aspek kehidupan. Tidak hanya kesehatan tapi berdampak juga pada sosial dan ekonomi masyarakat.

Covid-19 meski tidak kasat mata telah membawa perubahan besar terhadap perilaku masyarakat, tingkat mobilitas, pendapatan dan pola konsumsi.

Pandemi Covid-19 di Indonesa menyebar begitu cepat dan merata ke seluruh provinsi. Tidak terkecuali Jawa Tengah.

Bacaan Lainnya

Data dari laman covid19.go.id tercatat Jawa Tengah termasuk lima besar provinsi dengan korban terpapar Covid-19. Per 1 Juli 2020 di Jawa Tengah tercatat sebanyak 4.165 positif Covid-19, 1.706 dirawat, 2.103 sembuh dan 356 meninggal dunia seperti dikutip dari laman corona.jatengprov.go.id.

Hasil Survei Sosial Demografi Covid-19 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat 85% responden di Jawa Tengah mengetahui secara detail kebijakan Physical Distancing. Sebanyak 68% mengaku selalu melakukan Physical Distancing.

Ternyata, kaum perempuan lebih tertib dalam menerapkan perilaku sehat. Physical distancing cenderung lebih banyak diterapkan oleh perempuan (74%) ketimbang laki-laki (62%).

Cuci tangan dengan sabun lebih sering dilakukan perempuan (68%) sedang laki-laki (62%). Demikian halnya penggunaan masker juga lebih sering perempuan (71%) ketimbang laki-laki (61%).

Indeks Perilaku Ketaatan yang merupakan nilai rata-rata dari 13 perilaku yang merupakan himbauan selama masa pandemi menunjukkan tingkat ketaatan responden terlihat tinggi pada rentang usia 20-55 tahun.

Sedangkan yang berusia lebih dari 55 tahun terlihat cenderung turun. Hasil olahan dari Laporan Mobilitas Masyarakat Selama Pandemi COVID-19 (google.com/covid/mobility) terlihat aktivitas penduduk di lingkungan tempat tinggalnya meningkat cukup signifikan setelah diberlakukannya kebijakan Work Form Home (WFH) dan himbauan untuk tetap di rumah (stay at home).

Sebaliknya, terjadi penurunan aktivitas kerja yang cukup signifikan setelah diberlakukannya kebijakan WFH.

Menjelang lebaran, masyarakat banyak beraktivitas di tempat belanja kebutuhan sehari-hari untuk persiapan lebaran. Setelah lebaran, perubahan mobilitas ke tempat perdagangan retail dan rekreasi cenderung meningkat tepi masih berada di bawah mobilitas pada kondisi sebelum pandemi.

Aktivitas di taman masih terlihat sangat terbatas. Persentase perubahan mobilitas di taman masih menunjukkan nilai negatif dari waktu ke waktu. Sejak pandemi Covid-19 masyarakat sangat mengurangi aktivitas bepergian menggunakan transportasi umum. Bahkan setelah adanya surat edaran untuk kembali bekerja di kantor.

Perubahan mobilitas penduduk berdampak pada pendapatan dan perubahan pola konsumsi. Masyarakat miskin, rentan miskin, dan yang bekerja di sektor informal adalah kelompok paling terdampak dari pandemi ini.

Sebanyak 43% kelompok berpendapatan rendah (≤1,8 juta) mengalami penurunan pendapatan. Sedangkan dari kelompok pendapatan tinggi (>7,2 juta) sebesar 11% mengaku mengalami penurunan pendapatan.

Pandemi menyebabkan perubahan pengeluaran dari kondisi biasa. 48% responden menjadikan bahan makanan sebagai perubahan pengeluaran yang paling dominan diikuti oleh pengeluaran kesehatan (20%).

Hal ini tidak terlepas dari anjuran pemerintah untuk tetap berada di rumah selama pandemi.

Ekonomi Jawa Tengah Selama Pandemi

Ekonomi Jawa Tengah Triwulan I-2020 masih mampu tumbuh 2,60% meski jauh melambat ketimbang Triwulan I-2019 (5,14%). Sedangkan kondisi ekonomi Triwulan II-2020 secara Nasional diprediksi oleh berbagai kalangan akan mengalami kontraksi. Bisa jadi berimbas ke level provinsi.

Pukulan Pandemi terparah pada sektor pariwisata dalam negeri. Dikarenakan adanya pembatasan dan larangan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara untuk berkunjung ke tempat wisata.

Hal tersebut berdampak pada turunnya kunjungan wisatawan, tingkat hunian kamar, destinasi wisata/ tempat hiburan/ restaurant/ mall retail tutup sementara, ancaman PHK (pemutusan hubungan kerja).

Tercatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Jawa Tengah pada bulan April 2020 sebesar 11%, turun sebesar 18 poin dibanding TPK bulan Maret yang sebesar 29%.

Terdapat tiga sektor yang juga terdampak, yaitu: Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; Sektor Transportasi dan Pergudangan; serta Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum.

Jumlah penumpang penerbangan domestik yang datang ke Jawa Tengah pada April 2020 sebanyak 30.620 orang, turun 78%. Sementara jumlah kedatangan (debarkasi) penumpang angkutan laut pada April 2020 sebanyak 5.024 orang, turun 70% dibanding bulan sebelumnya.

Arahan Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo telah memberikan arahan terkait penanganan Covid-19 di Jawa Timur (25/6) bahwa dalam mengelola manajemen krisis ini, rem dan gas ini harus betul-betul seimbang.

Tidak bisa kita gas di urusan ekonomi tetapi kesehatannya menjadi terabaikan, tidak bisa juga kita konsentrasi penuh di urusan kesehatan tetapi ekonominya menjadi sangat terganggu.

Menindaklanjuti arahan tersebut diperlukan terobosan untuk memulihkan perekonomian dan mewujudkan target-target pembangunan yang sudah ditetapkan.

Pertama. Kepatuhan terhadap protokol pencegahan Covid-19, merupakan kunci penting menuju adaptasi normal baru atau dikenal sebagai New Normal (menjaga jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan).

Kedua. Pengaturan kerja secara fleksibel yaitu mengatur pembagian pegawai yang bekerja di kantor atau bekerja dari rumah (Work From Home-WFH) untuk tetap produktif.

Ketiga. Penguatan pemanfaatan teknologi informasi dan data yaitu penerapan aplikasi layanan pemerintahan berbasis elektronik dan aplikasi-aplikasi komunikasi dan kolaborasi.

Keempat. Inovasi, contohnya reformasi sistem perlindungan sosial di seluruh siklus kehidupan mulai dari usia anak, sekolah, produktif, dan lanjut usia.

Dengan berbagai terobosan tersebut sudah semestinya kita semua siap memasuki New Normal dan hidup berdampingan bersama Covid-19 adalah suatu keniscayaan.

Duto Sulistiyono, M.Si.
Statistisi Ahli Muda di BPS Kabupaten Pati

Pos terkait