China Fokus Bangun Manufaktur Teknologi Dalam Negeri 

  • Whatsapp
Para pemimpin China fokus pada pengembangan semikonduktor dan komponen teknologi lainnya untuk lima tahun ke depan. Kebijakan yang akan dirumuskan dalam cetak biru perekonomian China ini diambil di saat pemerintahan Amerika Serikat (AS) memutuskan akses teknologi China ke AS.

China ingin memaksimalkan pertumbuhan ekonomi secara mandiri.

 BEIJING — Para pemimpin China fokus pada pengembangan semikonduktor dan komponen teknologi lainnya untuk lima tahun ke depan. Kebijakan yang akan dirumuskan dalam cetak biru perekonomian China ini diambil di saat pemerintahan Amerika Serikat (AS) memutuskan akses teknologi China ke AS.

Bacaan Lainnya


Pemerintahan Presiden Xi Jinping memaksimalkan pertumbuhan ekonomi secara mandiri yang ditopang dengan belanja dalam negeri dan pengembangan teknologi. Sebab, ketegangan dengan mitra dagang telah menghambat akses ke pasar ekspor dan teknologi.


Partai Komunis yang berkuasa ingin industri China lebih bergantung pada pemasok dan konsumen domestik, sebuah strategi yang disebut sebagai dual circulation (sirkulasi ganda). Tapi, seperti dilansir AP News, Senin (26/10), para ekonom memperingatkan dampak negatifnya. Meskipun dapat membantu mengurangi gangguan sengketa perdagangan dengan AS maupun mitra lainnya, kebijakan sirkulasi ganda berpotensi meningkatkan biaya dan menurunkan produktivitas.


Rencana Lima Tahun (Five Year Plan) yang sudah dikeluarkan sejak 1950an, merupakan landasan bagi rencana industri pemerintah dalam bidang perekonomian. Kebijakan dirancang secara ketat. Garis besarnya akan diumumkan pada Kamis (19/10), namun rencana lengkap baru dirilis maksimal Maret 2021.


Surat kabar resmi Global Times menyebutkan, inovasi akan mendorong industri manufaktur China ke rantai pasok global sambil memastikan pasokan domestik secara strategis. “Mencapai kemandirian di bidang utama, seperti penelitian ilmiah dan keuangan, diprediksi akan menjadi fokus,” tulisnya.


Rencana terbaru pemerintahan China diperkirakan akan menekankan pada pengembangan semikonduktor di dalam negeri. Komoditas ini ditujukan untuk pembuatan komputer, ponsel pintar, kecerdasan buatan dan bidang lain.


Partai yang berkuasa telah mempromosikan pengembangan semikonduktor selama dua dekade terakhir. Tapi, pembuat ponsel pintar Cina dan produk lainnya masih memilih bergantung pada AS, Eropa dan Jepang untuk chip prosesor.


Beijing merasakan tekanan yang meningkat setelah pemerintahan Donald Trump memutuskan akses ke sebagian besar pasokan Amerika untuk produsen asal China, Huawei Technologies Ltd.


Ekonom Macquarie Larry Hu dan Xinyu Ji menjelaskan, tantangan bagi Cina terus berkembang dari waktu ke waktu. “Lima tahun lalu, tantangan terbesar bagi Beijing adalah ekonomi yang masih lemah. Saat ini, tantangannya, memisahkan diri dengan AS,” ujar mereka dalam sebuah laporan.


Decoupling atau pemisahan antara ekonomi negara yang dulu memiliki keterikatan kuat kini semakin marak. Pemerintahan Trump telah mendorong perusahaan-perusahaan AS untuk mengembalikan manufaktur ke dalam negeri dan tidak terlalu bergantung pada produksi di China.


Rencana yang sama dilakukan China. Mereka berencana menekan ketergantungan terhadap pemasok asing untuk produk strategis seperti makanan, energi, semikonduktor dan komponen utama teknologi lain.


Julian Evans Pritchard dan Sheana Yue dari Capital Economics menjelaskan, dorongan untuk swasembada berpotensi menghambat akselerasi pemulihan ekonomi China. Sebab, pemerintah harus menambah waktu dan tenaga untuk mengalihkan sumber dayanya.


“Ekonomi China akan lebih baik jika hal itu tidak dilakukan sejak awal,” ujar mereka dalam laporan.

Sumber: Republika

Pos terkait