Baru Sebulan Menjabat Menteri Ekonomi Korut Dipecat

  • Whatsapp
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memecat menteri ekonomi Kim Tu Il yang baru sebulan menjabat.

Pemecatan menteri ekonomi karena Kim Jong-un nilai rencana kerjanya tak berubah.

PYONGYANG — Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un memecat Menteri Urusan Ekonomi Korut Kim Tu Il. Kim Jong-un baru saja menunjuk Kim Tu Il menempati posisinya pada Januari lalu.

Bacaan Lainnya

Posisi Kim Tu Il sebagai Menteri Urusan Ekonomi dilaporkan bakal digantikan O Su Yong. Dia adalah pembuat kebijakan ekonomi lama yang sebelumnya menjabat sebagai wakil perdana menteri.

Dalam rapat pleno Partai Buruh Korut pada Kamis (11/2), Kim Jong-un meninjau rencana aksi strategi lima tahun terbarunya yang diungkapkan pada kongres partai bulan lalu. Korut menghadapi situasi pelik karena menghadapi sanksi internasional, penutupan perbatasan yang berkepanjangan, dan pengurangan bantuan luar akibat pandemi.

Dalam rapat pleno, Kim Jong-un menyebut rencana yang disusun kabinet pemerintah tak mengandung perubahan besar dibanding sebelumnya. Padahal rencana terdahulu sangat gagal di hampir setiap sektor.

Dia secara khusus menyoroti bidang ekonomi. “Ide dan kebijakan kongres partai tidak tercermin dengan baik dalam rencana kerja ekonomi yang diusulkan untuk tahun ini dan sudut pandang inovatif serta taktik yang jelas tidak dapat ditemukan,” ujar Kim.

Berdasarkan rekaman rapat yang disiarkan Korean Central News Agency, Kim menunjukkan raut gusar saat menyampaikan pidatonya. Dia bahkan sempat memukul podium. “Kabinet gagal memainkan peran utama dalam memetakan rencana bidang ekonomi utama dan hampir secara mekanis mengumpulkan angka-angka yang dirancang oleh kementerian,” ujar Kim Jong-un.

Menurut dia, hal itu menyebabkan rencana untuk beberapa sektor meningkat secara tidak realistis. Sementara sektor lainnya memiliki tugas yang sudah dapat dicapai dengan mudah.

Kim menyerukan peningkatan kemandirian dan produksi barang serta bahan lokal. Hal itu karena perdagangan dengan Cina yang menyumbang sekitar 90 persen pengiriman masuk dan keluar dari Korut anjlok lebih dari 80 persen tahun lalu akibat pembatasan pandemi Covid-19, dilansir dari Reuters, Jumat (12/2).

Sumber: Republika

Pos terkait