Perpustakaan Keliling Milik UMM Kunjungi Desa Gading Kembar

  • Whatsapp
Perpustaan keliling milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengunjungi anak-anak di Desa Gading Kembar, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/2).

UMM dan komunitas Preman Mengajar mengajari anak-anak agar tak terus bermain ponsel.

  MALANG — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Komunitas Preman Mengajar mengunjungi Desa Gading Kembar, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/2). Preman Mengajar merupakan salah satu komunitas yang dibentuk oleh Republik Gubuk.

Bacaan Lainnya


Komunitas ini memiliki fokus gerakan dalam bidang pendidikan. Bersama Preman Mengajar, UMM menyuguhkan buku lewat perpustakaan keliling untuk anak-anak setempat.

Kegiatan membaca ini juga bertujuan untuk menanamkan berbagai keterampilan pendidikan karakter pada anak-anak binaan yang di Desa Gading Kembar. Mulai mendongeng, menari hingga latihan seni bela diri bersama. Sebelum melakukan kegiatan, seperti menari dan seni bela diri, ada nilai-nilai kebaikan yang terlebih dahulu ditanamkan kepada anak-anak.

Pendiri Republik Gubuk, Fachrul Alamsyah mengatakan, ia biasa memberikan refleksi dan penanaman nilai dalam setiap kegiatan anak-anak. Hal itu bertujuan agar mereka tidak hanya melakukan rutinitas namun juga memahami maksud dan tujuan gerakan. “Serta harapan setelah mereka menguasai keterampilan ini,” kata Fachrul.


Dia berharap anak-anak bisa berlatih serius sehingga bisa menjadi sosok bermanfaat pada masa depan. Mereka diharapkan bisa menggunakan keterampilan yang dimiliki sebaik mungkin. “Lalu pergi ke manapun sesuai keinginan masing-masing dan membuat semangat yang sama seperti saat di Gubuk Baca,” kata fahcrul.

Penggagas Gubuk Baca, Faris Dwi Setyawan, mengaku, alasan mau membina anak-anak di Desa Gading Kembar merupakan bentuk keprihatinan atas kebiasaan anak-anak di sana yang kurang baik. Banyak anak di Gading Kembar yang terjebak dengan aktivitas bermain ponsel terus-menerus tanpa tahu waktu.


Padahal mereka seharusnya memanfaatkan masa pertumbuhanya untuk memperluas wawasan atau mengembangkan potensi diri. Sementara orang tua mereka cenderung membiarkan karena kebanyakan tingkat pendidikanya pun rendah.

“Karena hal itulah saya dan teman-teman yang dulunya tergabung dalam komunitas seni bela diri di kampung ini mau meluangkan waktu untuk mendampingi mereka,” jelas Faris.


Koordinator lapang UMM, Ridlo Setyono menyatakan, ia cukup terkejut dengan antusiasme anak-anak dalam membaca buku. Belum juga dibuka lemari perpustakaan keliling dibuka, mereka semua sudah mengantre. Saat dibuka pun mereka sontak menyerbu untuk mengambil buku bacaan sesuai dengan yang mereka inginkan.

Koordinator Pendidikan Preman Mengajar, Dony Windiarto, menuturkan kesan baiknya pada kegiatan kolaborasi ini. Dia berharap Mobil Pintar UMM bisa berlanjut bergerak bersama untuk meningkatkan literasi di pojok kampung yang jarang memiliki fasilitas membaca. Kolaborasi ini merupakan bentuk silahturahim dari instansi pendidikan dengan para pemuda di kampung.

Sumber: Republika

Pos terkait