IHSG Melemah Tertekan Penurunan Saham Konstruksi

  • Whatsapp
Pekerja melihat telepon pintarnya dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (31/3). Setelah kemarin anjlok, IHSG Kamis (1/4) kembali ke level psikologis.

IHSG melemah 0,40 persen di level 5.946,67 meski sempat dibuka di zona hijau.

 JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona merah pada perdagangan pagi ini, Selasa (6/4). IHSG melemah 0,40 persen di level 5.946,67 meski sempat dibuka di zona hijau. 

Bacaan Lainnya


Penurunan IHSG cukup mendapat tekanan dari saham-saham sektor konstruksi yang mayoritas terkoreksi sejak perdagangan kemarin. Pagi ini, pelemaham sektor konstruksi dipimpin oleh saham PT PP Tbk (PTPP) yang turun 4,30 persen.


Setelah itu, pelemahan disusul oleh saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang turun 4,27 persen. Kemudian PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) masing-masing terkoreksi 3,50 persen dan 2,87 persen. 


“Saham-saham kontruksi menjadi trigger negatif setelah investor melihat prospek kinerja keuangan di sektor kontruksi yang relatif negatif pada tahun 2020 berpotensi membuat arus kas di tahun 2021 cukup berat,” kata kepala riset Reliance Sekuritas Indonesia, Lanjar Nafi, Senin (6/4). 


Di samping itu, lanjut Lanjar, pembatasan sosial bersekala besar ditahun lalu yang mengakibatkan penundaan proyek-proyek konstruksi menjadi faktor utama memburuknya kinerja emiten kontruksi. Investor juga mencermati aksi jual investor asing terhadap saham-saham berkapitalisasi besar. 


Per Senin (5/4), investor asing tercatat melakukan aksi jual sebesar Rp 1,17 triliun. Adapun saham-saham yang pang banyak dijual asinb adalah PT Astra International Tbk (ASII), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Bank Central Asia Tbk  (BBCA).


Dari komoditas, miinyak turun setelah para pemimpin OPEC+ memutuskan untuk meningkatkan produksi. Minyak mentah West Texas Intermediate turun 1,8 persen menjadi 60,33 dolar AS per barel. Minyak mentah Brent turun 1,9 persen menjadi 63,64 miliar dolar AS per barel. 


Secara teknikal, menurut Lanjar, IHSG berpotensi menguji kembali bullish trendline dan support level. “Sehingga secara teknikal IHSG berpotensi bergerak terkonsolidasi mencoba menguat dengan support resistance 5946-6035,” tutup Lanjar.

Sumber: Republika

Pos terkait